MEMBERI MAKAN ORANG MISKIN

MEMBERI MAKAN ORANG MISKIN

By azmi laznasaql on September 10, 2022 in Artikel

Sedekah memang amalan yang sangat luas cakupannya termasuk di dalamnya adalah sedekah dengan memberikan makanan (sedekah makanan) kepada orang lain baik itu orang miskin ataupun orang kaya, hal tersebut merupakan amal ibadah yang Allah berikan pahala besar atasnya.

Allah SWT berfirman :

Bismillahirrahmaanirrahiim

  1. Ara-aital lazii yu kazzibu bid diin
  2. Fa zaalikal lazi yadu’ul-yatiim
  3. Wa la ya huddu ‘alaa ta’amil miskiin
  4. Fa wai lul-lil mu salliin
  5. Al laziina hum ‘an salaatihim sahuun
  6. Al laziina hum yuraa-uun
  7. Wa yamna’uunal ma’uun

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan hari pembalasan? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya’  dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al Maa’uun: 1-7)

Secara umum sedekah merupakan amalan yang senantiasa dianjurkan dalam Al-Qur’an dan hadist, akan tetapi ada yang menarik di sini, yakni Allah dengan tegas menyebutkan “memberi makan orang miskin” dalam ayat diatas, yang mana jika kita artikan secara sederhana bahwa Allah dengan tegas menyebutkan sedekah makanan kepada orang miskin merupakan sedekah yang sangat di anjurkan bahkan jika enggan melakukan atau sekedar menganjurkan, maka Allah ancam sebagai orang yang telah mendustakan Agama.

Lebih jelasnya mari kita lihat tafsir menurut para ulama terkait ayat  diatas :

Tafsir Surat Al-Ma’aun

Menurut Ibnu Abbas, asbabun nuzul Surat Al Maun ini terkait dengan Ash bin Wail. Menurut As Saddi mengenai Walid bin Mughirah. Ada juga yang mengatakan terkait Abu Jahal. Namun semuanya hampir sama, mereka menyakiti anak yatim yang datang meminta bantuan.

Menurut Ibnu Juraij, terkait dengan Abu Sufyan yang biasa menyembelih unta setiap pekan. Suatu ketika, seorang anak yatim datang meminta sedikit daging dari unta yang telah disembelih itu. Namun ia tidak diberi justru dihardik dan diusir. Setelah peristiwa itu, Allah menurunkan tiga ayat pertama Surat Al Maun ini.

Tafsir Surat Al Maun ayat 1

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

Kata yukadzdzibu  artinya adalah mendustakan atau mengingkari. Ia bisa berupa sikap batin, bisa pula berupa sikap lahir yang tampak dalam perbuatan.

Kata ad din secara bahasa bisa berarti agama, kepatuhan atau pembalasan. Dalam ayat ini, ad din sering diartikan agama. Namun ia juga berarti pembalasan karena seringkali Al-Quran ketika menggandengkan yukaddzibu dengan ad din artinya adalah mendustakan hari pembalasan (kiamat).

Ibnu Katsir termasuk mufassir yang memaknai ad diin dengan hari pembalasan. Sehingga makna ayat ini, tahukah engkau, hai Muhammad, orang yang mendustakan agama dan mendustakan hari pembalasan?

Tafsir Surat Al Maun ayat 2

Itulah orang yang menghardik anak yatim,

Ibnu Katsir menjelaskan, orang yang mendustakan agama dan mendustakan hari pembalasan itu adalah orang yang berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim, menganiaya haknya dan tidak memberinya makan serta tidak memperlakukannya dengan perlakuan yang baik.

Tafsir Surat Al Maun ayat 3

 “…dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”

Kata yakhudldlu artinya adalah menganjurkan. Kalaupun tidak memiliki apa-apa, seseorang dituntut minimal menjadi orang yang menganjurkan untuk memberi makan kepada orang miskin.

Kata tho’am berarti makanan atau pangan. Ayat ini tidak menggunakan kata ith’am yang artinya memberi makan, agar setiap orang yang melakukannya tidak merasa dirinya telah memberi makan. Namun ia hanya memberikan makanan yang pada hakikatnya bukan miliknya melainkan hak orang-orang miskin itu.

Dari Tafsir Diatas, Dapat Kita Mendapatkan Beberapa Kesimpulan Bahwa :

Sedekah makanan kepada orang miskin adalah anjuran yang sangat ditekankan. Jika tidak mampu memberi makanan, maka minimal kita menganjurkan, mengajak, memotivasi orang lain atau ikut andil dalam amal berbagi makanan ataupun pangan kepada orang-orang miskin.

Jika seseorang enggan ataupun menolak atas syari’at ini, maka dia Allah golongkan kepada orang munafik, yakni orang – orang yang mendustakan syari’at Allah.

Saudaraku, Allah adalah Tuhan yang telah menciptakan kita, Ia-lah yang menjamin rezeki kita, harus senantiasa kita yakini bahwa setiap syari’at yang Allah terapkan untuk kita, tidak akan memberatkan kita bahkan sebaliknya itu akan memberikan gundukan manfaat yang bahkan nalar kita tidak sampai untuk menghitung  manfaat-manfaat itu.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *