
Dikisahkan suatu hari seorang anak duduk merenung sambil memandangi anak anak yang sedang riang gembira bermain berlarian. Sementara anak tersebut hanya bisa termenung sembari menahan tangis karena baru saja kehilangan ayah kandungnya yang meninggal dunia.
Kemudian seseorang datang menghampirinya seraya berkata, “Ada apa gerangan, Nak? Mengapa matamu sendu, tidakkah kamu ingin bermain bersama mereka di hari raya ini?” Anak tersebut pun menjawab, “Aku sedang dirundung duka, ayahku meninggal dunia sementara kini aku harus hidup dengan seseorang baru pilihan ibuku bahkan aku harus terasingkan dari rumahku sendiri. Aku iri pada mereka, mereka bisa berkumpul bersama ayahnya di hari raya ini sementara aku tidak bisa bertemu ayahku lagi.”
Seseorang yang bertanya itu dapat memahami bagaimana perasaan anak tersebut. Kemudian ia berbicara kembali, “Nak, maukah kamu menganggapku sebagai ayahmu? Sesungguhnya aku ini adalah Rasulullah.” Mendengar ucapan itu, anak tersebut merasa terkejut seraya berkata, “Aku mau wahai Rasulullah.” Sungguh ia sangat merasa bahagia bertemu manusia paling agung di muka bumi.
Wahai Sahabat Surga, melalui kisah di atas ada pelajaran penting yang dapat kita petik dan kita amalkan dalam menjalankan kehidupan di dunia ini. Sejatinya anak yatim bukanlah anak yang kehilangan sang ayah, akan tetapi anak yatim adalah anak yang bisa mendapatkan kasih sayang dari seluruh ayah yang bersedia memuliakannya.
“Saya dan orang yang mengasuh atau memelihara anak yatim akan berada di surga begini,” kemudian beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah dan merenggangkannya sedikit.” (HR. Bukhari, Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad dari Sahl bin Sa’d).
Bersama Laznas AQL, muliakan anak yatim di sekitar kita.